Showing posts with label Doctor. Show all posts
Showing posts with label Doctor. Show all posts
Monday, December 12, 2011
Wednesday, October 12, 2011
PENTINGNYA UPGRADING ILMU
Kemajuan peradaban manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Maukah diperbudak oleh zaman?
Hal ini tidak akan terjadi, mengapa? Karena yang memajukan ilmu pengetahuan adalah manusia itu sendiri. Lain cerita bagi mereka yang salah menanggapi perkembangan ilmu. Sikap kitalah yang menentukan. Lalu harus bagaimana? Belajar. Semua kemajuan ini harus diketahui dampaknya, harus diketahui tujuan dan manfaatnya dan harus digunakan dalam konteksnya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Bukan egoisme pribadi dan kesombongan memiliki.
Dalam sebuah hadis Nabi menyatakan, "Barang siapa yang ingin sukses dalam kehidupan dunianya, hendaklah (dicapai) dengan ilmu, barang siapa yang ingin selamat di akhirat nanti hendaklah dengan ilmu dan barang siapa yang ingin sukses dalam menghadapi kedua-duanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah pula dicapai dengan ilmu."
“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah (fisabilillah) hingga ia kembali (ke rumahnya)” (HR.Tirmidzi)
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)
Tradisi Islam, orang yang berilmu amat dimuliakan. Kedudukannya dalam masyarakat adalah amat mulia. Inilah dimana ilmu itu sangat penting.
Apalagi bagi kita calon dokter, belajar itu seakan menjadi tuntutan. Long life learner, begitu mereka bilang. Banyak mutasi, resistensi, semua itu menuntut kita agar terus belajar sampai akhir hayat. Menolong pasien tanpa didasari ilmu itu merupakan tindakan non-maleficence. Bisa saja malpraktek dan sangat harmful untuk mereka. Kalau sudah seperti itu, siapa yang berdosa?
”Guru yang baik adalah pasien yang berobat di pelayanan kesehatan, perlakukanlah pasien sebagai orangtua, sebagai keluarga dekat, atau sebagai diri sendiri, jika dokter muda menyakiti pasien, berarti menyakiti orang tua sendiri, menyakiti keluarga atau menyakiti diri sendiri”.
Untuk kondisi kita saat ini dalam kaitannya dengan TMA, misal dalam keadaan sedang medcheck atau banmed. Mau apa kita kalau tidak punya ilmunya? Bengong dan hanya melihat mereka mengeluhkan sakitnya? Na’udzubillah. Semoga kita termasuk orang yang berilmu. Amin.
OLAH RAGA ITU PENTING!
الرَّحِيمِ الرَّحْمنِ اللهِ بِسْمِ
Setiap orang diberikan tubuh dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat padanya. Untuk apa tubuh tersebut?
Nikmat dari Allah sangat berlimpah tidak terkira : “Maka jika kamu mau menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya” (QS An Nahl :18). Dan diantara nikmat yang sangat berharga dan tidak ternilai itu adalah nikmat kesehatan. Berapa harga mata, indra pendengaran, ginjal, jantung atau hati?
Tubuh kita ini telah diamahkan oleh Allah untuk kita pakai dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Tentunya kita ‘dipinjamkan’ tubuh ini bukan untuk selamanya, namun ada batas jatuh tempo kapan kita wajib mengembalikannya dan mempertanggungjawabkannya.
“Kemudian sungguh kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kenikmatan (yang kalian rasakan didunia ini),” (QS At Takatsur : 8)
“Kemudian sungguh kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kenikmatan (yang kalian rasakan didunia ini),” (QS At Takatsur : 8)
Untuk apakah tubuh yang telah dipinjamkan kepada kita untuk sementara waktu ini? Untuk berbuat dosakah? Atau untuk menggali pahala dari Allah? Kitalah yang menentukan sendiri. Orang beriman pasti menginginkan tubuh ‘pinjamannya’ itu digunakan untuk hal-hal yang baik. Tapi tubuh pun punya batas kemampuan toh? Niat suci yang menggebu-gebu namun tubuh rapuh bagai seonggok kayu lapuk tidaklah sejalan.
Inilah pentingnya bagi kita umat manusia untuk menjaga ‘tubuh pinjaman’ ini. Malu kan pinjam sesuatu dan dikembalikan dalam keadaan yang tidak baik?
Lalu bagaimana menjaganya? Salah satu jawabannya adalah dengan berolah raga.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), olah raga adalah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh.
Olahraga membantu menguatkan tubuh (memperkuat otot, sendi, dan urat otot), memberikannya daya tahan, dan membuat tubuh mampu berfungsi teratur dan sehat. Olahraga memungkinkan orang beriman untuk bekerja lebih baik lagi untuk mendapatkan ridha Allah dan beramal saleh.
Ingat bahwa Allah SWT lebih mencintai umatnya yang kuat.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman .” ( Q.S. Ali 'Imran : 138 - 139 )
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman .” ( Q.S. Ali 'Imran : 138 - 139 )
Manfaat olahraga sangatlah banyak, diantaranya (1) Meningkatkan kemampuan otak. (2) Membantu menunda proses penuaan. (3) Mengurangi stres. (4) Menaikkan daya tahan tubuh. (5) Melancarkan peredaran darah, dan ini akan menyebabkan tugas-tugas organ tubuh bisa berjalan lebih baik. (6) Melindungi dari berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan diabetes. (7) meningkatkan kontrol emosi dan temperamen; dan masih banyak lagi.
Penelitian menunjukkan, tidak perlu tiap hari berolahraga. Frekuensi olahraga 3-5 kali per minggu mampu untuk mempertahankan tingkat kebugaran yang telah dicapai. Kalau memungkinkan jangan sampai lebih dari dua hari berturutan tidak berolahraga.
Apalagi kita sebagai anggota muda sebuah tim medis, kebugaran tubuh sangatlah penting perannya. Kita bukanlah orang yang hanya bekerja di balik layar atau hanya duduk menatap monitor dan menekan keyboard. Kita melayani mereka yang membutuhkan bantuan medis. Mau jadi apa kita jika fisik sendiri ternyata tidak mampu?
Jadi, program bina jasmani yang sedang berlangsung sekarang menurut saya bukanlah sebuah program ‘ploncoan’ untuk anggota muda. Namun sebuah program yang memang disusun agar kita mampu dan sanggup untuk turun ke lapangan.
”Allah tidak membebani seseorang malainkan sesuai dengan kadar kemampuanya” (QS Al Baqarah : 286).
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Adab Menghadapi Pasien Lawan Jenis
Apa saja sih rambu-rambu untuk para ahli medis melakukan prakteknya, khususnya pada kasus lawan jenis? Ada beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang ahli medis, termasuk di dalamnya kita anggota Tim Medis Asy-syifaa.
Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas (memandang dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan memijit, dimana dokter tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan yang bukan mahramnya atau menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia menggunakan kaos tangan atau semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak langsung), dalam hal ini menyentuh dan memandang tidak ada masalah.
Akan tetapi jika dalam masalah ini dokter mampu mengobati hanya dengan memandang saja dan atau hanya dengan menyentuh pasien yang bukan mahramnya tersebut maka dokter harus mencukupkan dengan memandang saja atau menyentuh saja (itupun sebatas darurat) dan lebih daripada itu tidak boleh. Dokter perempuan dalam hal memandang dan menyentuh pasien laki-laki yang bukan mahramnya juga berlaku hukum demikian. Begitu para ulama mengatakan.
Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap dokter, para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang terbaik bagi pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh memberikan obat yang haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya bukan muhrimnya, hendaklah ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua didalam kamar pengobatan.
Telah di nukil dari Imam Musa ibnu Ja’far yang mengatakan: Seorang lelaki buta dengan lebih dahulu meminta izin telah memasuki rumah Fatimah (sepertinya dia perlu dengan Rasulullah SAW) Fatimah mengambil kerudungnya dan beliau bersembunyi di dalam kerudung tersebut (mengambil hijab), Nabi SAW berkata: Putriku mengapa engkau menutup dirimu sedangkan dia tidak melihatmu? Beliau berkata: Apabila dia tidak melihat saya, tapi saya melihat dia dan dia (jika tidak melihat dan buta) tetapi dia mencium bau wanita. Rasulullah SAW sedemikian gembiranya sambil berkata: Saya bersaksi bahwa engkau adalah belahan jiwaku. (Hayaatu Al-Imam Husain,Khutbah Hadrat Zaenab)
Lihatlah begitu diagungkannya urusan hijab oleh Rasulullah SAW.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya".
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslim/muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yang berbeda jenis, ia harus didampingi mahramnya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh yang nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat wanita, meskipun sudah ada perawat wanita misalnya, maka keberadaan suami atau wanita lain (selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan.
Adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan berguna agar kaum Muslim tidak tersesat di dunia. Adab-adab tersebut antara lain:
1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis
Allah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)
Allah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)
2. Tidak berdua-duaan
Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Tidak menyentuh lawan jenis
Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari)
Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)
Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari)
Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)
Sunday, May 1, 2011
The God's Choice For Me
Sejak kecil saya selalu mendapat apa yang saya mau.
Bisa dibilang, hanya dengan usaha yang tidak terlalu berharga.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, mungkin sesekali ada rintangan.
Tapi itupun lagi-lagi hanya sekedar lubang kecil di jalan, atau sebatas kerikil yang terlempar ke kaki saya saat saya melangkah.
Saya selalu ingat kata ibu saya, bersyukur bersyukur dan bersyukur.
Tulisan ini saya buat setelah membaca salah satu cerita dalam buku "Dalan Dekapan Ukhuwah" krya Ustadz Sali A. Fillah. buku itu begitu menyindir saya. Saya sadar selama ini saya tidak terlalu dekat dengan Sang Maha Besar di atas. Saya takut Dia tidak sayang sama saya. Saya jarang diberi cobaan yang "berarti".
Semakin besar cobaan yang kita dapatkan, semakin besar cinta Allah untuk kita. Benar begitu Ya Allah? :(
Saya ingin menjadi salah satu dari hamba-Nya yang dicintai. Saya merasa hidup saya datar. flat. ga ada tantangan. Allah sayang sama saya ga ya?
Tapi saya salah, tanpa saya sadari sebenarnya Allah telah memberikan banyak ujian untuk saya. Entah saya yang tidak peka mengabil hikmah atau saya terlalu sombong untuk tidak menganggap semua itu bukan ujian?
Astaghfirullohaladzim..
Ya Allah...
Mungkin benar kata salah satu teman baik saya, Nandha. Saya terlalu ambisius. Salahkah ya Allah? :(
Sekarang saya sudah belajar. Saya belajar menerima apa yang bukan saya inginkan.
Saya belajar ikhlas dan berusaha menikmatinya. Awalnya saya lakukan untuk orang tua saya.
Tapi saya sekarang sudah mengerti betapa apapun yang kita lakukan adalah berujung pada-Mu.
Saya ingin mendapat ridho-Mu dalam setiap lakuku ya Allah..
Terimakasih sudah membuat saya sadar. Pilihan-Mu memang tak pernah salah. Pilihan-Mu selalu yang terbaik. Saya yakin :)
1. STAN --> Fakultas Kedokteran UNPAD
Meskipun menurut test kepribadian, saya tidak ada bakat tuh untuk jadi seorang dokter.
Saya bakat jadi sekretaris. Jadi akuntan. Tapi kemampuan kan bisa diasah, seperti kata pelatih saya dulu waktu jaman PMR SMA ^^ Lagi pula, dokter itu pekerjaan mulia kan? :)
Satu yang kupinta dari-Mu, mudahkan setiap langkahku ya Allah..
2. P&K --> Kestara
eh apa-apaan ini saya berani-beraninya pengin jadi pengkader dan pendidik?? Memang apa yan saya punya? Ngaca!! Itu statement yang saya pegang untuk menghibur diri saya sendiri setelah tahu bahwa saya tidak berhasil masuk P&K. Sedih memang. Tapi saya disadarkan, lagi-lagi oleh teteh mentor saya. Rima Karimah :)
Kalau semua orang berpikiran seperti itu, tidak akan ada yang mau untuk saling menasihati dan mengajari sesama. Tidak perlu tunggu untuk menjadi hebat agar bisa berbagi :)
Ya benar. Lantas kenapa saya ga bisa masuk P&K? Saya dulu OSIS, saya nge-MOS adek2 kelas. Astaghfirulloh..sombong sekali saya. Begitu sempit cara saya berpikir.
Ah sudahlah, saya lagi-lagi mencoba untuk ikhlas. Saya jalani semua dengan senang hati.
Dan saya menemukan keluarga baru di Kestara. Keluarga yang membuat saya begitu nyaman di dalamnya :)
Selain itu, saya jadi bisa melanjutkan cita-cita saya jadi sekretaris ^^ pas kan??
Ga usah jauh-jauhlah musti ikut test STAN lagi. kan banyak jalan menuju roma ^^
3. SOPHRAN --> ALTO
Yaaahhhhh. sediiiih banget waktu tau hasil seleksi saya masuk alto. argghh!!
Dari SMP saya tu di sophran!!! Saya maunya sophran!!!!
Lagi-lagi... belajar ikhlas :)
Jaman dulu suara saya masih bisa lah ya nyampe nada-nada tinggi. Lagunya juga yang bukan dengan interval nada sampe 4 oktaf. MasyaAllah..
Ingat umur, sudah tua juga ternyata saya. Sudah berapa lama ga belajar nyanyi? Memang saya yang paling jago??
Hey Lan, di atas langit masih ada langit. Masih banyak yang jauh lenih jago daripada kamuu!!!
Manusia memang tidak pernah luput dari kesombongan. Saya terutama :( *hela nafas*
Ah ayolah, yang penting nyanyi-nyanyi :D
Setelah sekian lama ga berlatih, saya sadar ternyata suara saya memang sudah tidak seperti dulu lagi. Saya cuma akan merusak harmoni kalo saya dipaksakan masuk sophran. Saya lebih nyaman di alto sekarang ^^
Alhamdulillah..
The God's Choice Is Always The Best For Me ^^
Thanks God :)
[ Read More ]
Bisa dibilang, hanya dengan usaha yang tidak terlalu berharga.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, mungkin sesekali ada rintangan.
Tapi itupun lagi-lagi hanya sekedar lubang kecil di jalan, atau sebatas kerikil yang terlempar ke kaki saya saat saya melangkah.
Saya selalu ingat kata ibu saya, bersyukur bersyukur dan bersyukur.
Tulisan ini saya buat setelah membaca salah satu cerita dalam buku "Dalan Dekapan Ukhuwah" krya Ustadz Sali A. Fillah. buku itu begitu menyindir saya. Saya sadar selama ini saya tidak terlalu dekat dengan Sang Maha Besar di atas. Saya takut Dia tidak sayang sama saya. Saya jarang diberi cobaan yang "berarti".
Semakin besar cobaan yang kita dapatkan, semakin besar cinta Allah untuk kita. Benar begitu Ya Allah? :(
Saya ingin menjadi salah satu dari hamba-Nya yang dicintai. Saya merasa hidup saya datar. flat. ga ada tantangan. Allah sayang sama saya ga ya?
Tapi saya salah, tanpa saya sadari sebenarnya Allah telah memberikan banyak ujian untuk saya. Entah saya yang tidak peka mengabil hikmah atau saya terlalu sombong untuk tidak menganggap semua itu bukan ujian?
Astaghfirullohaladzim..
Ya Allah...
Mungkin benar kata salah satu teman baik saya, Nandha. Saya terlalu ambisius. Salahkah ya Allah? :(
Sekarang saya sudah belajar. Saya belajar menerima apa yang bukan saya inginkan.
Saya belajar ikhlas dan berusaha menikmatinya. Awalnya saya lakukan untuk orang tua saya.
Tapi saya sekarang sudah mengerti betapa apapun yang kita lakukan adalah berujung pada-Mu.
Saya ingin mendapat ridho-Mu dalam setiap lakuku ya Allah..
Terimakasih sudah membuat saya sadar. Pilihan-Mu memang tak pernah salah. Pilihan-Mu selalu yang terbaik. Saya yakin :)
1. STAN --> Fakultas Kedokteran UNPAD
Meskipun menurut test kepribadian, saya tidak ada bakat tuh untuk jadi seorang dokter.
Saya bakat jadi sekretaris. Jadi akuntan. Tapi kemampuan kan bisa diasah, seperti kata pelatih saya dulu waktu jaman PMR SMA ^^ Lagi pula, dokter itu pekerjaan mulia kan? :)
Satu yang kupinta dari-Mu, mudahkan setiap langkahku ya Allah..
2. P&K --> Kestara
eh apa-apaan ini saya berani-beraninya pengin jadi pengkader dan pendidik?? Memang apa yan saya punya? Ngaca!! Itu statement yang saya pegang untuk menghibur diri saya sendiri setelah tahu bahwa saya tidak berhasil masuk P&K. Sedih memang. Tapi saya disadarkan, lagi-lagi oleh teteh mentor saya. Rima Karimah :)
Kalau semua orang berpikiran seperti itu, tidak akan ada yang mau untuk saling menasihati dan mengajari sesama. Tidak perlu tunggu untuk menjadi hebat agar bisa berbagi :)
Ya benar. Lantas kenapa saya ga bisa masuk P&K? Saya dulu OSIS, saya nge-MOS adek2 kelas. Astaghfirulloh..sombong sekali saya. Begitu sempit cara saya berpikir.
Ah sudahlah, saya lagi-lagi mencoba untuk ikhlas. Saya jalani semua dengan senang hati.
Dan saya menemukan keluarga baru di Kestara. Keluarga yang membuat saya begitu nyaman di dalamnya :)
Selain itu, saya jadi bisa melanjutkan cita-cita saya jadi sekretaris ^^ pas kan??
Ga usah jauh-jauhlah musti ikut test STAN lagi. kan banyak jalan menuju roma ^^
3. SOPHRAN --> ALTO
Yaaahhhhh. sediiiih banget waktu tau hasil seleksi saya masuk alto. argghh!!
Dari SMP saya tu di sophran!!! Saya maunya sophran!!!!
Lagi-lagi... belajar ikhlas :)
Jaman dulu suara saya masih bisa lah ya nyampe nada-nada tinggi. Lagunya juga yang bukan dengan interval nada sampe 4 oktaf. MasyaAllah..
Ingat umur, sudah tua juga ternyata saya. Sudah berapa lama ga belajar nyanyi? Memang saya yang paling jago??
Hey Lan, di atas langit masih ada langit. Masih banyak yang jauh lenih jago daripada kamuu!!!
Manusia memang tidak pernah luput dari kesombongan. Saya terutama :( *hela nafas*
Ah ayolah, yang penting nyanyi-nyanyi :D
Setelah sekian lama ga berlatih, saya sadar ternyata suara saya memang sudah tidak seperti dulu lagi. Saya cuma akan merusak harmoni kalo saya dipaksakan masuk sophran. Saya lebih nyaman di alto sekarang ^^
Alhamdulillah..
The God's Choice Is Always The Best For Me ^^
Thanks God :)
Resiko Seorang Mahasiswa Kedokteran
Sesekali terlihat membuka buku soal, case review, atau draft sooca disaat ke-hectic-an kegiatan yang ia jalani.., terkadang malah cenderung asyik dan terkesan memiliki dunia sendiri disaat terlarut dalam kebingungan belajar ditengah waktu yang berhasil dicuri untuk melakukan itu…
” ck..ck..ck…, rajin amat sih anak kedokteran, dimana-mana nyempetin belajar ” gurau seorang teman pada nya…
” maklum lah, sebentar lagi mau ujian, ngejar setoran setelah sekian lama tidak belajar ” jawabnya lugas..
” oh, besok ada ujian ya?? ” tanya sang sahabat kembali..
” enggak kok, 2 minggu lagi… ” timpal nya singkat..
” HAH?? saya aja yang ujian besok masih tenang-tenang aja kok… -__-‘”, respon sang sahabat yang pastinya bukan teman sefakultas nya…
ya.., terkadang seperti berlebihan…
berlebihan nampaknya sikap anak2 kedokteran dalam hal belajar (padahal waktu ujian masih lama.. *katanya..)
berlebihan dari segi kepanikan anak2 kedokteran menghadapi ujian (padahal waktu ujian masih lama.. *katanya.., sementara banyak fakultas lain yang waktu ujian nya lebih dekat, tapi biasa saja..)
terkesan meng-ekslusifkan diri, seolah ingin menunjukan bahwa ujian di fakultas kedokteran terkesan lebih berat dan lebih sulit dibanding fakultas lain, seolah membuat yang lain dipaksa paham akan kondisi itu..
lalu akan dianggap se-lebay apakah seorang yang akan menghilang 1,5 bulan, mendelegasikan amanah yang dipegang saat ini, hanya untuk belajar dan menghadapi ujian2 itu??
Ntahlah, apa yang dirasakan setiap kita ketika menjadi mahasiswa kedokteran, yang 2 minggu lagi dihadapkan pada ujian.., disaat dirinya tau, kapasitas belajar sebelumnya jauh dari kata cukup, karena waktu belajar nya banyak dihabiskan pula untuk menjalankan aktivitas lain diluar belajar nya dalam ilmu kedokteran..
2 minggu lagi ujian..
dihadapkan pada 200 soal pilihan ganda, berbahasa inggris, dengan soal cerita klinis, studi kasus, dan basic science yang harus diselesaikan dalam 200 menit tanpa istirahat..
dimana dalam menjawab soal2 tersebut, diperlukan bacaan komprehensif terkait mata kukiah (sistem) yang diujikan dari buku2 tebal berbahasa inggris (textbook) yang saya rasa cukup membuat kepala manusia pening dan membuat anjing berhenti menggonggong ketika buku setebal dan seberat itu dilemparkan pada nya…
itu baru salah satu episode kecil dari rangkaian panjang ujian yang dihadapi..
2 minggu lagi..
episode lain ujian yang membuat orang muntah (dalam artian sebenar-benarnya muntah.. *temen saya mengalami ini..), stress, depresi, hingga sakit ialah ujian SOOCA (ujian lisan) yang dalam persiapan nya kita harus menghapal sekitar 32-36 kasus kedokteran yang dikaitkan dengan basic sciene yang sedang dipelajari dari sistem dermatomuskuloskeletal, hematoimmunology, serta cardiovasculer (* untuk tahun ketiga), dengan sistem random 1 kasus yang keluar, yang harus dipresentasikan selama 20 menit di depan 2 dokter penguji, dan nilai yang keluar dari ujian ini dijadikan 50% bobot nilai untuk dituliskan di Indeks Prestasi nanti…
2 minggu lagi…
selain ujian tulis dan ujian lisan, masih ada episode lain dari ujian ini, ya.., ujian praktik, skill lab (OSCE) . Menghapal sekitar 30-35 modul skill lab, terkait sistem yang dipelajari, dan kasus yang akan diujiakan, kurang lebih ada 15 kasus nantinya yang masing2 kasus diselesaikan dalam waktu 10 menit. Ujian yang cukup melelahkan dari segi fisik, pikiran dan mental, maraton untuk pindah dari satu ruangan ke ruangan lain nya (total ada 15 ruangan) untuk mengatasi kasus-kasus medis yang memerlukan keterampilan medis kita dalam menangani nya, dan langsung diuji oleh dokter2 spesialis untuk menilai ketrampilan kita..
wajib mendapat nilai A di ujian ini, karena jika tidak mendapat nilai A = remedial, dan jika setelah remedial masih belum mendapatkan nilai A, kemungkinan besar tidak akan naik kelas..
ada nilai E, nilai D > 7 SKS, gagal ujian lisan, gk dapet A nilai ujian praktik (walaupun cuma 1 station), maka bersiaplah untuk tinggal kelas, mengulang kembali setahun semua kuliah yang pernah dijalani, bersama angkatan bawah, bukan mengulang mata kuliah atau sistem yang gagal saja… (kayak waktu SMA lagi.. -__-‘)
2 minggu lagi, untuk ujian tulis, lisan, dan praktik..
3 kasus draft ujian lisan harus dibuat minimal per hari nya (masing2 kasus 20 menit X 30 kasus = 600 menit = 10 jam minimal waktu yg diperlukan untuk latihan saja ujian lisan nya, belum menghapalnya… T_T), belum lagi membaca textbooks, buku soal (200 menit X 4 = 800 menit minimal untuk latihan soal, belum memahami nya..), case review, serta lab manual ujian praktik yang harus dipelajari.. (10 menit X 30 kasus = 300 menit = 5 jam minimal waktu latihan simulasi, belum menghapalnya juga…), dengan dominasi bahasa inggris dalam semua proses tersebut..
lalu adakah yang membuat kita untuk tidak panik, takut, memaksakan diri mencuri waktu untuk sekedar membaca, bahkan sampai meninggalkan beberapa aktivitas hanya untuk ujian?? (yang walau kata kebanyakan orang waktu ujian nya masih lama??)
ya…, memang sulit.., sulit untuk bisa mengkomunikasikan hal ini ke khalayak ramai, sulit untuk berbagi keresahan ini ke kebanyakan orang, sulit untuk bisa menjadikan orang merasakan apa yang kita rasa pada saat ini.., hingga akhirnya bisa sama-sama saling memahami, ya.., memang sulit.., lebih mudah nampaknya menjadikan kebanyakan orang menganggap kita berlebihan, menganggap ekslusif, dan cenderung merendahkan fakultas lain karena menganggap fakultas lain ujian nya lebih ringan.., ironis memang.., tapi beginilah kenyataan nya..
dan inilah konsekuensi yang harus dihadapi mahasiswa kedokteran ketika aktifitas dan lingkungan nya banyak bersinggungan dengan sahabat2 dari fakultas lain..
bukan mundur, atau melarikan diri, hanya berhenti sejenak, itupun bukan untuk memenuhi hak diri, terlebih bersenang-senang, melainkan untuk menunaikan amanah orang tua, menunaikan amanah umat yang saya pikul kelak sebagai tanggung jawab atas keilmuan yang kita pelajari..
belajar adalah sebuah keharusan, bukan sekedar karena dihadapkan pada ujian, menjadi mahasiswa kedokteran, suatu saat nanti yang dihadapi langsung ialah manusia, dan keilmuan yang dimiliki erat kaitan nya dengan nyawa seseorang, maka kesungguhan dalam belajar menjadi sebuah keniscayaan..
lalu, apakah karena hal seperti ini memang mengharuskan anak2 kedokteran untuk tak aktif dalam berbagai kegiatan diluar kuliah atau keilmuan nya??
jelas tidak.., diluar masa ujian, TOTALITAS dan LOYALITAS masih bisa diberikan untuk menghasilkan kontribusi nyata dengan sungguh2, yang kebermanfaatan nya jauh lebih besar dibanding kerugian yang dihasilkan ketika mereka harus meninggalkan amanah nya hanya untuk menghadapi ujian..
maka tak aneh sebenernya ketika melihat anak2 kedokteran ramai menjadi aktivis…
“kok bisa ya anak kedokteran aktif diluar, emang ada waktu ya??”
JELAS BISA!! waktu kita untuk memberikan KONTRIBUSI BESAR lebih banyak dan lebih panjang dibanding waktu kita berhenti sejenak untuk mempersiapkan ujian..
tapi terkadang, kebaikan yang besar ini, terbiaskan oleh kekurangan/keterbatasan kita yang kecil…
tapi lagi2, inilah konsekuensi nya menjadi mahasiswa kedokteran..
tapi yang pasti, tak pernah terbesit untuk mengekslusifkan diri atau mengistimewakan diri dengan kondisi tersebut, karena, mau anak kedokteran, sastra, mipa, fisip, itu semua sama dihadapan Allah..
hanya ketakwaan yang membuat setiap kita berbeda dihadapan- Nya..
dan semoga, apa yang kami jalani saat ini pun, sebagai proses untuk terus bisa memperbaharui takwa kami untuk lebih baik buat kedepan nya…
-Kang Danfer-
[ Read More ]
” ck..ck..ck…, rajin amat sih anak kedokteran, dimana-mana nyempetin belajar ” gurau seorang teman pada nya…
” maklum lah, sebentar lagi mau ujian, ngejar setoran setelah sekian lama tidak belajar ” jawabnya lugas..
” oh, besok ada ujian ya?? ” tanya sang sahabat kembali..
” enggak kok, 2 minggu lagi… ” timpal nya singkat..
” HAH?? saya aja yang ujian besok masih tenang-tenang aja kok… -__-‘”, respon sang sahabat yang pastinya bukan teman sefakultas nya…
ya.., terkadang seperti berlebihan…
berlebihan nampaknya sikap anak2 kedokteran dalam hal belajar (padahal waktu ujian masih lama.. *katanya..)
berlebihan dari segi kepanikan anak2 kedokteran menghadapi ujian (padahal waktu ujian masih lama.. *katanya.., sementara banyak fakultas lain yang waktu ujian nya lebih dekat, tapi biasa saja..)
terkesan meng-ekslusifkan diri, seolah ingin menunjukan bahwa ujian di fakultas kedokteran terkesan lebih berat dan lebih sulit dibanding fakultas lain, seolah membuat yang lain dipaksa paham akan kondisi itu..
lalu akan dianggap se-lebay apakah seorang yang akan menghilang 1,5 bulan, mendelegasikan amanah yang dipegang saat ini, hanya untuk belajar dan menghadapi ujian2 itu??
Ntahlah, apa yang dirasakan setiap kita ketika menjadi mahasiswa kedokteran, yang 2 minggu lagi dihadapkan pada ujian.., disaat dirinya tau, kapasitas belajar sebelumnya jauh dari kata cukup, karena waktu belajar nya banyak dihabiskan pula untuk menjalankan aktivitas lain diluar belajar nya dalam ilmu kedokteran..
2 minggu lagi ujian..
dihadapkan pada 200 soal pilihan ganda, berbahasa inggris, dengan soal cerita klinis, studi kasus, dan basic science yang harus diselesaikan dalam 200 menit tanpa istirahat..
dimana dalam menjawab soal2 tersebut, diperlukan bacaan komprehensif terkait mata kukiah (sistem) yang diujikan dari buku2 tebal berbahasa inggris (textbook) yang saya rasa cukup membuat kepala manusia pening dan membuat anjing berhenti menggonggong ketika buku setebal dan seberat itu dilemparkan pada nya…
itu baru salah satu episode kecil dari rangkaian panjang ujian yang dihadapi..
2 minggu lagi..
episode lain ujian yang membuat orang muntah (dalam artian sebenar-benarnya muntah.. *temen saya mengalami ini..), stress, depresi, hingga sakit ialah ujian SOOCA (ujian lisan) yang dalam persiapan nya kita harus menghapal sekitar 32-36 kasus kedokteran yang dikaitkan dengan basic sciene yang sedang dipelajari dari sistem dermatomuskuloskeletal, hematoimmunology, serta cardiovasculer (* untuk tahun ketiga), dengan sistem random 1 kasus yang keluar, yang harus dipresentasikan selama 20 menit di depan 2 dokter penguji, dan nilai yang keluar dari ujian ini dijadikan 50% bobot nilai untuk dituliskan di Indeks Prestasi nanti…
2 minggu lagi…
selain ujian tulis dan ujian lisan, masih ada episode lain dari ujian ini, ya.., ujian praktik, skill lab (OSCE) . Menghapal sekitar 30-35 modul skill lab, terkait sistem yang dipelajari, dan kasus yang akan diujiakan, kurang lebih ada 15 kasus nantinya yang masing2 kasus diselesaikan dalam waktu 10 menit. Ujian yang cukup melelahkan dari segi fisik, pikiran dan mental, maraton untuk pindah dari satu ruangan ke ruangan lain nya (total ada 15 ruangan) untuk mengatasi kasus-kasus medis yang memerlukan keterampilan medis kita dalam menangani nya, dan langsung diuji oleh dokter2 spesialis untuk menilai ketrampilan kita..
wajib mendapat nilai A di ujian ini, karena jika tidak mendapat nilai A = remedial, dan jika setelah remedial masih belum mendapatkan nilai A, kemungkinan besar tidak akan naik kelas..
ada nilai E, nilai D > 7 SKS, gagal ujian lisan, gk dapet A nilai ujian praktik (walaupun cuma 1 station), maka bersiaplah untuk tinggal kelas, mengulang kembali setahun semua kuliah yang pernah dijalani, bersama angkatan bawah, bukan mengulang mata kuliah atau sistem yang gagal saja… (kayak waktu SMA lagi.. -__-‘)
2 minggu lagi, untuk ujian tulis, lisan, dan praktik..
3 kasus draft ujian lisan harus dibuat minimal per hari nya (masing2 kasus 20 menit X 30 kasus = 600 menit = 10 jam minimal waktu yg diperlukan untuk latihan saja ujian lisan nya, belum menghapalnya… T_T), belum lagi membaca textbooks, buku soal (200 menit X 4 = 800 menit minimal untuk latihan soal, belum memahami nya..), case review, serta lab manual ujian praktik yang harus dipelajari.. (10 menit X 30 kasus = 300 menit = 5 jam minimal waktu latihan simulasi, belum menghapalnya juga…), dengan dominasi bahasa inggris dalam semua proses tersebut..
lalu adakah yang membuat kita untuk tidak panik, takut, memaksakan diri mencuri waktu untuk sekedar membaca, bahkan sampai meninggalkan beberapa aktivitas hanya untuk ujian?? (yang walau kata kebanyakan orang waktu ujian nya masih lama??)
ya…, memang sulit.., sulit untuk bisa mengkomunikasikan hal ini ke khalayak ramai, sulit untuk berbagi keresahan ini ke kebanyakan orang, sulit untuk bisa menjadikan orang merasakan apa yang kita rasa pada saat ini.., hingga akhirnya bisa sama-sama saling memahami, ya.., memang sulit.., lebih mudah nampaknya menjadikan kebanyakan orang menganggap kita berlebihan, menganggap ekslusif, dan cenderung merendahkan fakultas lain karena menganggap fakultas lain ujian nya lebih ringan.., ironis memang.., tapi beginilah kenyataan nya..
dan inilah konsekuensi yang harus dihadapi mahasiswa kedokteran ketika aktifitas dan lingkungan nya banyak bersinggungan dengan sahabat2 dari fakultas lain..
bukan mundur, atau melarikan diri, hanya berhenti sejenak, itupun bukan untuk memenuhi hak diri, terlebih bersenang-senang, melainkan untuk menunaikan amanah orang tua, menunaikan amanah umat yang saya pikul kelak sebagai tanggung jawab atas keilmuan yang kita pelajari..
belajar adalah sebuah keharusan, bukan sekedar karena dihadapkan pada ujian, menjadi mahasiswa kedokteran, suatu saat nanti yang dihadapi langsung ialah manusia, dan keilmuan yang dimiliki erat kaitan nya dengan nyawa seseorang, maka kesungguhan dalam belajar menjadi sebuah keniscayaan..
lalu, apakah karena hal seperti ini memang mengharuskan anak2 kedokteran untuk tak aktif dalam berbagai kegiatan diluar kuliah atau keilmuan nya??
jelas tidak.., diluar masa ujian, TOTALITAS dan LOYALITAS masih bisa diberikan untuk menghasilkan kontribusi nyata dengan sungguh2, yang kebermanfaatan nya jauh lebih besar dibanding kerugian yang dihasilkan ketika mereka harus meninggalkan amanah nya hanya untuk menghadapi ujian..
maka tak aneh sebenernya ketika melihat anak2 kedokteran ramai menjadi aktivis…
“kok bisa ya anak kedokteran aktif diluar, emang ada waktu ya??”
JELAS BISA!! waktu kita untuk memberikan KONTRIBUSI BESAR lebih banyak dan lebih panjang dibanding waktu kita berhenti sejenak untuk mempersiapkan ujian..
tapi terkadang, kebaikan yang besar ini, terbiaskan oleh kekurangan/keterbatasan kita yang kecil…
tapi lagi2, inilah konsekuensi nya menjadi mahasiswa kedokteran..
tapi yang pasti, tak pernah terbesit untuk mengekslusifkan diri atau mengistimewakan diri dengan kondisi tersebut, karena, mau anak kedokteran, sastra, mipa, fisip, itu semua sama dihadapan Allah..
hanya ketakwaan yang membuat setiap kita berbeda dihadapan- Nya..
dan semoga, apa yang kami jalani saat ini pun, sebagai proses untuk terus bisa memperbaharui takwa kami untuk lebih baik buat kedepan nya…
-Kang Danfer-
Saturday, April 30, 2011
Pasien Pertamaku
Surat dari Calon Pasienku.
Terdiam dalam sunyi. Ku tatap tumpukan hand-out yang mau tidak mau harus kubaca malam ini.
‘Kenapa baru malam ini?!’, tanya hati kecilku sedikit marah.
‘Ya mau gimana?! Agh! Jangan Protes terus!’, jawab hati ku ntah dari sisi yang mana.
Ramai.. dan hatiku berperang..
Otakku kelu. Hanya sanggup menatap dari jauh percakapan sengit dalam hati ku.
Dan…, sebuah benda asing bernama penyesalan mampir mengetuk pintu hatiku.
Penyesalan dengan spesies memilih jurusan..
‘Buat apa dia datang?’
Fiuh… Ya.., tak lain dan tak bukan adalah memancing amarah tuk keluar dari tempat semedinya. Namun, otakku yang sedari tadi kelu, bangkit bak disambar petir dengan gaya otoritasnya, memerintah tangan membuka sesuatu yang tersentuh oleh mata.
…
Surat
Lembar sebuah surat
………………………………………………………………………………………………………………………………………
Selamat pagi calon dokterku :) Mengapa pagi ini engkau terlihat lesu? (bagaimana jika aku memanggilmu caldokku? Tidak keberatan kan? :))
…
Hm..aku dengar pelajarannya berat ya? Dan banyak juga ya? Dan apa lagi ya? :D
Maafkan aku caldokku, karena engkau harus belajar keras demi aku :(.. calon pasienmu..
…
Tapi
wahai calon dokterku…
Tahukah engkau..
Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat..
Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku..
Segala talenta terpatri dalam jiwanya
Mulai dari konumikasinya yang menghangatkan jiwa,
Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya,
Jiwa seorang guru yang memberi pengertian pada pasiennya,
Kemampuan persuasifnya..
Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggungjawab yang diembannya…
Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya.. dan masih banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan..
Terima kasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku.. calon pasienmu..
Waktumu dalam belajar, berorganisasi membentuk karakter, berlatih mengasah skill, engkau lakukan demi aku kelak, calon pasienmu..
Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan..
Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku.. pasienmu kelak..
Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa.. sungguh mulianya dirimu… dan ku yakin engkau akan berkata ‘tidak, tidak usah dibalas, dan saya hanya manusia biasa, Sang Pencipta yang berkuasa’ :)
Aku di sini selalu berharap engkaulah yang dipilih Sang Pencipta untuk merawatku kelak, layaknya seperti manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian..
Maka dari itu, tersenyumlah.. Aku senang melihatmu tersenyum..:) karena dengan senyummu saja sakit yang kurasa bisa sirna :D
…
Calon dokterku,
Sudah terlalu banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia..
Dan karena itu lah aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka
Dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda..
Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati
Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.
Aku ingin segera memanggilmu dokter. Dan bukan caldok lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya? :) Namun, aku mengerti pelajaran itu tidaklah semudah yang mereka bayangkan, maka berjuanglah caldokku.. aku.. calon pasien pertamamu.. akan selalu menantimu..
Aku akan terus memohon kepada Yang Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu ‘dokter…’ di ruang praktekmu, pagi itu… :)
Ttd.
Calon Pasien Pertamamu- Ibu yang selalu merindukanmu :)
………………………………………………………………………………………………………………………………………
Semangat Kolegaku! Banyak orang yang telah menunggu kita sebagai dokter yang profesional.
Jangan menyerah! Mari berjuang bersama dan saling mengingatkan.
Setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Hanya saja kita butuh kesabaran untuk mencapainya.
“Jika matahari ibarat kesulitan dan hujan ibarat kesuksesan maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi”
Semangat!
Copied with permission. modified by me :)
[ Read More ]
Terdiam dalam sunyi. Ku tatap tumpukan hand-out yang mau tidak mau harus kubaca malam ini.
‘Kenapa baru malam ini?!’, tanya hati kecilku sedikit marah.
‘Ya mau gimana?! Agh! Jangan Protes terus!’, jawab hati ku ntah dari sisi yang mana.
Ramai.. dan hatiku berperang..
Otakku kelu. Hanya sanggup menatap dari jauh percakapan sengit dalam hati ku.
Dan…, sebuah benda asing bernama penyesalan mampir mengetuk pintu hatiku.
Penyesalan dengan spesies memilih jurusan..
‘Buat apa dia datang?’
Fiuh… Ya.., tak lain dan tak bukan adalah memancing amarah tuk keluar dari tempat semedinya. Namun, otakku yang sedari tadi kelu, bangkit bak disambar petir dengan gaya otoritasnya, memerintah tangan membuka sesuatu yang tersentuh oleh mata.
…
Surat
Lembar sebuah surat
………………………………………………………………………………………………………………………………………
Selamat pagi calon dokterku :) Mengapa pagi ini engkau terlihat lesu? (bagaimana jika aku memanggilmu caldokku? Tidak keberatan kan? :))
…
Hm..aku dengar pelajarannya berat ya? Dan banyak juga ya? Dan apa lagi ya? :D
Maafkan aku caldokku, karena engkau harus belajar keras demi aku :(.. calon pasienmu..
…
Tapi
wahai calon dokterku…
Tahukah engkau..
Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat..
Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku..
Segala talenta terpatri dalam jiwanya
Mulai dari konumikasinya yang menghangatkan jiwa,
Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya,
Jiwa seorang guru yang memberi pengertian pada pasiennya,
Kemampuan persuasifnya..
Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggungjawab yang diembannya…
Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya.. dan masih banyak lagi yang tak bisa ku sebutkan..
Terima kasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku.. calon pasienmu..
Waktumu dalam belajar, berorganisasi membentuk karakter, berlatih mengasah skill, engkau lakukan demi aku kelak, calon pasienmu..
Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan..
Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku.. pasienmu kelak..
Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa.. sungguh mulianya dirimu… dan ku yakin engkau akan berkata ‘tidak, tidak usah dibalas, dan saya hanya manusia biasa, Sang Pencipta yang berkuasa’ :)
Aku di sini selalu berharap engkaulah yang dipilih Sang Pencipta untuk merawatku kelak, layaknya seperti manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian..
Maka dari itu, tersenyumlah.. Aku senang melihatmu tersenyum..:) karena dengan senyummu saja sakit yang kurasa bisa sirna :D
…
Calon dokterku,
Sudah terlalu banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia..
Dan karena itu lah aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka
Dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda..
Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati
Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.
Aku ingin segera memanggilmu dokter. Dan bukan caldok lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya? :) Namun, aku mengerti pelajaran itu tidaklah semudah yang mereka bayangkan, maka berjuanglah caldokku.. aku.. calon pasien pertamamu.. akan selalu menantimu..
Aku akan terus memohon kepada Yang Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu ‘dokter…’ di ruang praktekmu, pagi itu… :)
Ttd.
Calon Pasien Pertamamu- Ibu yang selalu merindukanmu :)
………………………………………………………………………………………………………………………………………
Semangat Kolegaku! Banyak orang yang telah menunggu kita sebagai dokter yang profesional.
Jangan menyerah! Mari berjuang bersama dan saling mengingatkan.
Setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Hanya saja kita butuh kesabaran untuk mencapainya.
“Jika matahari ibarat kesulitan dan hujan ibarat kesuksesan maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi”
Semangat!
Copied with permission. modified by me :)
Thursday, April 7, 2011
Bukan Lagi Sekretaris, Tapi Dokter :')
Ini cerita tentang bagaimana saya bertahan di FK.
Sejak kecil, saya bercita-cita jadi seorang pekerja kantoran. Pekerjaannya ngapain saya juga ga tahu, tapi entah kenapa saya kepingin banget. Terinspirasi oleh seorang teller bank saat saya menemani papah waktu itu. Mengurus setiap administrasi, bekerja di depan laptop, ruangan ber-AC, serta baju resmi nan elegan. Tapi saya ga tahu gimana cara mewujudkan cita-cita itu.
Lalu saya cerita sama mbak, dia mendukung saya dan memotivasi saya untuk kelak melanjutkan kuliah di STAN. Dia ingin kuliah disana juga katanya, waktu itu dia kelas 3 SMA kalau ga salah. Saya sama sekali tidak tahu apa itu STAN. Tapi promosi yang dilakukan mbak membuat saya penasaran sampai saya browsing dan membeli buku-buku paket soal latihan ujian masuk STAN. Saya sudah mulai berlatih mengerjakannya sejak SMP, berharap dikemudian hari saya bisa mengerjakannya dengan mudah. Konon ceritanya susah sekali untuk menjadi mahasiswa STAN. Saya percaya saja.
Tiba saatnya, mbak saya mendaftar STAN dan ternyata gagal. Dia diterima di satu universitas lain yang lebih sesuai dengan keinginannya. Tapi papah dan ibuk tidak mengijinkannya dan mereka menyuruh mbak saya untuk tes masuk kebidanan. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran,dan tes bisa dilakukan hari itu juga. Mbak saya manut aja, berharap ga diterima dan akhirnya kuliah di universitas yang dia suka itu. Mbak cerita, saat mengerjakan soal dia kena severe dysmenorrhea dan rasanya hampir pingsan. Sudah tidak sanggup lagi berpikir, dan akhirnya dia mengisi kertas jawabannya itu dengan tulisan,
“Kalau jawaban ini benar maka itu adalah jawaban ibuk saya.”
Papah saya yang menungguinya tes di luar ruangan udah khawatir karena muka si mbak udah pucat katanya, dan malangnya tidak diizinkan keluar ruangan sebelum waktu habis. Beberapa hari kemudian ada pengumuan, dan mbak diterima dengan peringkat 19 serta mendapat beasiswa dari Australia. Mungkin memang benar bahwa doa orang tua sangat manjur.
Apa mau dikata, mbak ga bisa nolak permintaan papah dan ibuk untuk kuliah di kebidanan saja. Dia bilang, dia kuliah disana cuma untuk menyenangkan hati papah dan ibuk saja. Saat itu saya tidak sadar betapa papah dan ibuk sangat sedih dengan ucapan mbak saya itu. Ibuk bilang, ibuk selalu berdoa biar mbak bisa betah dan senang kuliah disana. Ibuk takut mbak ga belajar, katanya. Waktu itu saya cuma diam aja, ga ngerti apa yang harus saya katakan. Untunglah mbak bukan anak nakal, meskipun sebenarnya lumayan nakal, dia tetap belajar walau belum sungguh-sungguh.
Dan dia terbukti nakal, bisa dibilang ‘ga patah semangat’. Tahun depannya, dia mencoba lagi mendaftar STAN dan mungkin memang ga diridhoi, dia telat dan akhirnya ga jadi. Terus dia cerita ke papah sama ibuk, dia mendaftar diam-diam. Lagi-lagi papah dan ibuk saya sedih mendengar ceritanya. Tapi ibuk tetep berdoa, ibuk selalu bilang sama saya kalau saya harus yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkan doa kita. Entah waktunya kapan tapi pasti dikabulkan. Papah juga katanya berdoa si, cuma saya ga tahu. Papah jarang ke gereja juga soalnya.
Sejak itu si mbak bener-bener memotivasi saya untuk melanjutkan cita-citanya itu. Saya si manut aja, saya juga memang kepingin kuliah disana. Papah dan ibuk juga mendukung, mungkin untuk menyenangkan hati mbak juga :)
Sudah hampir semester 4, tiba-tiba mbak nelpon ibuk dan bilang bahwa dia sudah mantep kuliah disana. Menyuruh ibuk dan papah untuk tidak usah khawatir lagi tentang dia. Ibuk langsung bersyukur dan terlihat sangat bahagia waktu itu. Saya si senyum-senyum aja.
Sekarang giliran saya yang berjuang. Saya benar-benar terobsesi untuk menjadi salah satu mahasiswa di kampus STAN itu. Tapi karena pendaftarannya paling akhir, jadi saya disuruh ikut tes masuk universitas lain dulu. Saya sih emang ga berani nolak, nurut aja mah kalo saya =.=
Tes perdana, papah dan ibuk saya bilang saya harus kuliah kalau ga di kesehatan ya di pendidikan. Yaa mungkin biar ada penerus pekerjaan papah sama ibuk sebagai guru itu. Lagi-lagi saya nurut. Kalau saya sih gamau, ga pernah ada keinginan sedikitpun buat saya jadi seorang guru. Anehnya, saat tes waktu itu saya merasa sangat dimudahkan. Padahal itu tes jauh hari sebelum ujian nasional dan saya hanya belajar saat H-1. Lagi-lagi, doa orang tua memang sangat manjur. Setelah keluar ruangan, katanya muka saya biasa aja. Papah dan ibuk yang nungguin saya dari tadi udah was-was tuh katanya banyak yang keluar sambil nangis-nangis. Yaa saya senyum-senyum aja. Diterima ya syukur, engga juga gapapa hehe.. itu ujian paling dulu tapi pengumumannya paling akhir.
Papah dan ibuk takut saya ga diterima, akhirnya saya disuruh tes lagi di universitas lain. Saya kaget, kok tiba-tiba papah dan ibuk menyuruh saya ambil jurusan kedokteran. Gaya nih papah sama ibuk kayak bisa biayain aja. Tapi lagi-lagi yaaa baiklah, saya sih nurut aja. Paling juga ga diterima. Dan ternyata benar, dua universitas yang saya coba tidak ada yang menerima saya. Ditolak semuanya euy, hehe. Saya juga kurang belajar kayaknya. Abisnya cuma pingin masuk STAN, ya belajarnya soal-soal masuk STAN aaaajaa :D
Terus sampai pengumuman tes yang perdana itu, alhamdulillah saya diterima. Ibuk saya sampai berkaca-kaca waktu saya bilang saya diterima. Lebay juga nih ibuk T.T
Tapi kan saya gamau. Saya maunya di STAN. Tapi saya ga bilang, takut nyakitin perasaan papah dan ibuk kaya dulu pas jaman-jamannya si mbak ga mau kuliah. Saya cuma minta untuk ikut les intensif di Jogja (5 jam perjalanan dari rumah) selama 2 minggu. Papah dan ibuk ga tega saya ngekost sendirian disana, jadi mereka ngajakin anaknya temen ibuk buat ikut juga. Rempong, padahal saya sendiri aja juga gapapa. Kan saya yang mau. Lagian kan pasti ketemu temen baru juga disana. Tapi itulah, namanya juga orang tua. Hehe..suka lupa terima kasih saya ^^
Dua minggu itu saya belajar dari pagi sampai malam. Waktu itu saya benar-benar belajar keras, disaat teman-teman saya sudah santai berlibur. Saya kalau mau juga bisa seperti mereka, saya sudah punya cadangan di satu universitas dengan jurusan yang PAPAH dan IBUK saya mau itu. Pendidikan matematika. Tapi saya GA MAU. Ini konsekuensi saya kalau saya ingin sesuatu, jadi saya lahap tuh 5 paket buku soal dan berpuluh-puluh try-out. Alhamdulillah kata bapak yang ngajarin saya disana, katanya nilai saya insyaAllah aman kalau dilihat dari hasil-hasil try-out. Saya berdoa, puasa, sholat malam berharap apa yang dikatakan bapak itu menjadi kenyataan.
Saya selain belajar soal masuk STAN juga belajar soal SNMPTN. Tadinya saya gamau ikut paket SNMPTN, tapi ibuk sudah keburu membelikan paket belajar itu. Tapi perbandingannya 6:1 sii, jadi ya saya terima-terima aja. Itu adalah kesempatan terakhir saya tahun itu. Cita-cita saya terkabul, atau cita-cita papah dan ibuk saya yang terkabul? Saya yang menentukan.
Setiap hari H seleksi ujian masuk, saya pasti ditemani papah dan ibuk. Tapi waktu SNMPTN, saya sendirian. Sempat menangis melihat teman-teman yang lain diantar dan ditunggui keluarga mereka. Saya orangnya cengeng, tapi waktu itu saya malu jadi ditahan-tahan aja nangisnya. Saya waktu itu ga pernah berdoa biar lolos SNMPTN. Ga pernah sama sekali. Saya berdoanya biar diterima di STAN. Dan 15 menit sebelum SNMPTN dimulai, saya sms ibuk, papah, mas dan mbak supaya didoakan. Satu menit sebelum bel mulai berbunyi, saya berdoa dalam hati.
Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk saya..
Dan, setelah selesai tes dan sampai di kost..saya menangis. Saya merasa belum mengisi kode soal pada lembar jawaban. Saya sms ibuk dan mbak. Saya mengecewakan ibuk, bisa didengar dari bagaimana ibuk bicara saat menelpon saya waktu itu. Tapi bagaimanapun seorang ibuk, dia tetap memberikan semangat kepada saya. Dia mengingatkan saya untuk tidak lupa berdoa, dan jangan terlarut dalam penyesalan. Jadikan perbaikan, masih ada 1 kesempatan untuk meraih cita-cita saya yang sesungguhnya. Mbak juga bilang, udaah gapapa..kan maunya di STAN toh?
Saya belajar mati-matian mengerjakan soal-soal STAN. Sampai pada hari-H, saya dijemput papah dan ibuk. Saya ditunggui saat tes. Saya kerjakan soal-soal itu dengan seksama. Dan saya keluar ruangan dengan perasaan, saya tidak lulus. Tapi saya cepat-cepat mengubur perasaan itu dan berusaha positive-thinking. Saat ditanya ibuk dan papah, gimana nduk? Saya cuma bisa jawab, doakan aja pah, buk. Setelah itu saya pulang, dan saya ga tahu harus berkata apa selama perjalanan. Dalam hati, masa iya saya mau mengecewakan mereka untuk yang kesekian kalinya? Akhirnya saya tidur aja di mobil.
Saya sudah pasrah kalaupun saya akhirnya harus kuliah di kependidikan. Pernah saya tanya ke ibuk, kalau wulan ga diterima STAN tahun ini, tahun depan boleh nyoba lagi? Ibuk jawab, iya boleeh..ibuk selalu dukung asal itu memang yang terbaik buat kamu, nduk :)
Hari pengumuman SNMPTN. Kartu peserta saya hilang, dan saya ga punya backup-nya. Saya sii santai aja, paling juga ga diterima. Tapi ibuk saya nyariin kartu itu di tumpukan buku-buku saya sementara saya asik nonton tv. (jahat juga saya -__-). Akhirnya ketemu, dan saya disuruh cepat-cepat buka pengumuman. Dalam hati saya hanya berdoa,
Ya Allah jangan biarkan saya kecewakan papah dan ibuk lagi..
SubhanAllah, saya diterima. Ibuk saya menangis dan memeluk saya. Papah mencium pipi saya dan tersenyum puas melihat saya. Saat itu saya seperti orang bego, bingung, saya ga percaya kalau ini beneran. Tapi saya senang, saya senang bisa membuat mereka senang :)
Saat itu akhirnya saya tahu kenapa papah dan ibuk sangat ingin saya menjadi seorang dokter. Mereka termotivasi oleh staff papah yang anaknya berhasil masuk kedokteran. Padahal mereka juga guru SD, tapi mereka begitu hebat sampai berani membayar hingga 250jt demi anaknya menjadi dokter. Papah dan ibuk saya jadi terpacu, kalau mereka bisa kenapa kita engga? Gitu katanya. Dan saya bersyukur diberi kemudahan untuk bisa belajar disini dengan biaya yang tidak semahal mereka. Disaat banyak orang lain sangat ingin belajar disini dan dengan susah payah mereka berjuang, tidakkah saya sepantasnya mensyukuri hal ini?
Tapi dalam hati, saya tetep ga mau. Saya mau kuliah di STAN. Tapi apalah daya, ibuk saya berdoa agar saya tidak diterima di STAN katanya T.T (ibuk tega nian dirimu). Dan doanya lagi-lagi manjur, saya DITOLAK. Saya menangis sejadi-jadinya waktu itu. Saya sangat iri dengan teman-teman yang berhasil masuk STAN. Saya ingin seperti mereka. Saya ingin belajar perpajakan. Saya ingin pakai seragam. Saya ingin kuliah kedinasan. Saya ingin kuliah gratis. Tapi...
Saya hanya mencoba memendam itu semua. Saya takut melukai hati orang tua saya. Saya coba jalani kehidupan di FK ini. Saya temukan teman-teman baru, buku-buku yang sangat menarik untuk dibaca, suasana baru, bahasa baru, dan orang-orang hebat yang selalu membuat saya ingin menjadi seperti mereka J
Berat memang menjalani suatu hal yang tidak kita inginkan awalnya, namun saya selalu ingat bahwa ada banyak orang dibelakang sana yang selalu mendukung saya, yang selalu membanggakan saya, mendoakan saya. Lalu apa saya akan setega itu mengancurkan harapan mereka?
Tulisan ini saya buat saat ingat oom saya dulu yang selalu motongin kuku saya waktu kecil, beliin saya alat-alat tulis banyak banget, marahin saya waktu ujan-ujanan, bilang gini di twitter :
amin oom :D RT @antodarmo: @wulanowalun selalu sayang, doa untuk ponakanku Ɣªήğ paling hebat, om pengen liat sampai nanti wisuda jadi dokter
Terus juga gara-gara saya pasang status di fb kaya gini:
sejak di FK, saya belajar untuk menerima sesuatu yg tidak saya sukai. sekarang saya yakin, memang benar hal2 yg kita pikir baik itu belum tentu baik juga menurut Allah. hanya bisa ikhlas menerima dan berjuang untuk tidak mengecewakan mereka :) percaya bahwa inilah jalan terbaik untuk saya. bismillaah, mudahkan ya Allah..
dan banyak yang suka+komen, termasuk mbak saya yang bilang:
Good girl, mbak jg pernah merasakan, dan sampai saat ini mbak tidak pernah menyesal.
Dan ada teman curhat saya, namanya Ela yang bilang:
"sesuatu yang dicapai dengan susah payah, akan memberikan kesan tersendiri
memang dalam proses gak mudah. tapi kenapa harus merasa sedih ??
kamu punya tantangan besar untuk meraihnya.
nikmati tantangan itu. . dan KALAHKAN !
suatu saat ketika kamu sudah menang atas tantangan besar itu dan,
berada di puncak keberhasilan , kamu akan merasa bagaikan ulat yang menjadi kupu.
apapun yang terjadi pada mu saat ini. tetaplah percaya, bersyukur , berserah dan maju dalam iman.
karena Allah sedang merajut yang terbaik untukmu ."
semangat kawaaan !! :)
memang dalam proses gak mudah. tapi kenapa harus merasa sedih ??
kamu punya tantangan besar untuk meraihnya.
nikmati tantangan itu. . dan KALAHKAN !
suatu saat ketika kamu sudah menang atas tantangan besar itu dan,
berada di puncak keberhasilan , kamu akan merasa bagaikan ulat yang menjadi kupu.
apapun yang terjadi pada mu saat ini. tetaplah percaya, bersyukur , berserah dan maju dalam iman.
karena Allah sedang merajut yang terbaik untukmu ."
semangat kawaaan !! :)
Terus juga karena ada orang lain yang merasakannya, seperti Mas Poundra, Onya dan Anto.
Saya yakin, apa yang kita jalani saat ini adalah pilihan terbaik dari Allah.
Semoga bisa menginspirasi :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

